banyak sekali salah paham yang terjadi diantara kita,
entah itu kami yang tak mengerti yang kau inginkan,
atau kau yang tak mau mengerti kami
Tapi, wahai wanita kuat kami,
kau adalah anugrah yang tak ternilai harganya,
obat dari segala penyakit.
Kini ragamu sudah tak ada didekat kami,
hanya senyuman, sedih, marah di wajahmu yang masih membekas diingatanku.
Dulu, kau sering berucap " nanti kau rasakan kalau aku sudah gak ada",
kata - katamu itu gak ada lanjutannya, kau suruh kami sendiri merasakannya, tanpa kau beri tahu dulu kalau rasanya itu ; kosong, hilang arah, tak ada tempat pulang, kalau dirangkum jadi satu kata adalah SAKIT.
Hey wanita tua yang renta,
ternyata kata - kata yang sering dulu kau ucapkan berulang kali, seperti ;
" nanti kalau aku udah gak ada, akur - akur kalian adek beradek ya" ,
"saling tolong menolong, saling sayang menyanyangi satu sama lain" ,
itu sekarang terjadi, afirmasi positif yang kau tanamankan semasa hidupmu terjadi saat kau tak ada.
Menjelang lima tahun kepergianmu, aku rasa aku mulai menerima, berdamai dengan kepergianmu,
jangan bicara tentang rindu, karna ternyata rindu kepada orang yang sudah tidak ada itu amat menyakitkan.
Mak, aku berdoa semoga suatu waktu nanti, di akhirat kita bisa bertemu dan saling mengenal lagi sebagai ibu dan anak, aku ingin melepaskan rasa rinduku padamu di alam sana.